Sumber : Kaskus - Diary Misteri - Keluarga Tak Kasat Mata - Bagian 13 (TAMAT)
Entah perjanjian apa yang dibuat antara Langgeng dengan Bapak sehingga Ibu Suminah merasa sangat tertekan dengan segala kekayaan yang ia terima sekarang. Mungkin karena gelap mata atau semacamnya membuat Bapak lupa akan perjanjian yang sudah disepakati antara beliau dengan Langgeng (tentang detailnya ane kurang tau karena yang bersangkutan tidak mau diungkap terlalu banyak masalah ini). Dan dari sinilah efek dari kekayaan instan terjadi.
Bagian 13 - Alkisah Kemudian Hari
Seperti merasa dikhianati perjanjiannya, sosok Langgeng yang sempat ane kira baik itu murka menjadi-jadi. Beliau seperti menuntut apa yang sudah dijanjikan Bapak waktu membuat perjanjian dengan dia. Ane gabisa jelasin panjang lebar disini ... yang jelas waktu Bapak mulai mengabaikan perjanjian dengan Langgeng, satu persatu anggota keluarganya meninggal satu persatu (dari anak-anaknya terlebih dahulu). Ane pribadi juga melihat sendiri bagaimana mereka meninggal saat itu, tapi untuk menghormati mereka ane akan tutup mulut soal kasus tersebut.
Yang jelas mereka adalah korban Langgeng atas perjanjian yang sudah dibuat. Menurut penuturan dari Om Hao selaku orang yang bisa melihat melalui mata batin, semua korban Langgeng dimakan sukmanya. Sehingga jasad yang ditinggalkan di dunia nyata ini tidak sepenuhnya jazad nyata, dalam konteks ini digambarkan sebagai pelepah pisang. Pernah suatu waktu satu anggota keluarga mencoba membuktikan kebenarannya saat sedang memandikan jenazah. Konon jika memang korban pesugihan, kala dipotong salah satu anggota tubuhnya jasad tersebut akan berubah menjadi pelepah pisang dan memang benar adanya. Tapi untuk menghargai para pelayat waktu itu, jenazah tersebut tetap dibungkus kain kafan selayaknya manusia untuk menyimpan curiga.
Saturday, May 21, 2016
Keluarga Tak Kasat Mata - Bagian 12
Sumber : Kaskus - Diary Misteri - Keluarga Tak Kasat Mata - Bagian 12
Ane masih inget bener waktu ane menceritakan cerita ini dari awal hingga akhir, flow teror mental yang ane alamin sangat-sangat membuat ane gila. Kehidupan, pekerjaan, bahkan jam tidur mendadak menjadi berantakan - dan puncaknya ane mendapat gangguan yang sempat membuat ane trauma (seperti yang udah ane ceritakan di part 9). Sempat berfikir untuk mengakhiri kisah ini dengan sejuta pertanyaan di benak ane yang belum bisa ane pecahin sendiri. Pertanyaan tentang sejarah adalah bagian yang tidak pernah mau ane tau lebih dalem, buat apa ngerti kaya gitu juga. Ane juga ga bakalan kepo-kepo banget, toh ane udah hidup di jaman modern sekarang ... buat apa juga kan ngungkit-ngungkit kejadian yang ane sendiri tidak pernah tau kebenarannya?
Tapi semakin ane ga mau bercerita, pikiran ane malah semakin kacau menjadi-jadi. Ane sempet nangis waktu itu, karena pikiran ane selalu dipaksa untuk masuk ke sebuah kejadian dimana ane bisa melihat dengan sangat jelas apa saja yang pernah terjadi di tempat itu.
“Baik.. Kalo memang maksud dari semua ini baik, kenapa tidak? Saya tidak keberatan, tapi tolong bantu saya agar saya bisa menerima ini semua dalam tahapan wajar saya sebagai manusia biasa” entah ane ngomong sama siapa waktu itu, tapi yang jelas ane ngomong gitu sendiri – Ente beranggapan ane gila it’s okay, karena memang ini semua ane ga pernah minta dan semua sudah diluar nalar.
Dan tidak lama setelah ane menjadi gila karena sering ngomong sendiri. Ane sempet curhat tentang masalah ini ke Mba Indigo, dan dia membenarkan semua pengakuan “hal-hal diluar nalar” yang terjadi baru-baru ini.
Beliau bertutur kepada ane, “Ya kemarin mba juga di datengin sama mereka. Mereka Cuma mau kenalan aja kok. Sudah intinya memang sudah digariskan. Kamu jalani saja semampu kamu, ikuti kata hati kamu. Pesen mba, jangan pernah ceritakan tentang beberapa sosok yang memang sensitif. Nanti kamu diikutin lagi malah repot.”
Seketika mendengar perkataan Mba Indigo, antara takut & percaya diri bercampur menjadi satu. Karena waktu itu ane Cuma percaya sama perkataan beliau perihal gaib, selaku beliau memang diberikan bakat istimewa untuk melihat & berinteraksi dengan mereka. Dan ane putuskan untuk maju terus, karena dalam hati ane sangat yakin semua ini pasti akan ada hikmah & amanahnya untuk kita semua.
Ane masih inget bener waktu ane menceritakan cerita ini dari awal hingga akhir, flow teror mental yang ane alamin sangat-sangat membuat ane gila. Kehidupan, pekerjaan, bahkan jam tidur mendadak menjadi berantakan - dan puncaknya ane mendapat gangguan yang sempat membuat ane trauma (seperti yang udah ane ceritakan di part 9). Sempat berfikir untuk mengakhiri kisah ini dengan sejuta pertanyaan di benak ane yang belum bisa ane pecahin sendiri. Pertanyaan tentang sejarah adalah bagian yang tidak pernah mau ane tau lebih dalem, buat apa ngerti kaya gitu juga. Ane juga ga bakalan kepo-kepo banget, toh ane udah hidup di jaman modern sekarang ... buat apa juga kan ngungkit-ngungkit kejadian yang ane sendiri tidak pernah tau kebenarannya?
Tapi semakin ane ga mau bercerita, pikiran ane malah semakin kacau menjadi-jadi. Ane sempet nangis waktu itu, karena pikiran ane selalu dipaksa untuk masuk ke sebuah kejadian dimana ane bisa melihat dengan sangat jelas apa saja yang pernah terjadi di tempat itu.
“Baik.. Kalo memang maksud dari semua ini baik, kenapa tidak? Saya tidak keberatan, tapi tolong bantu saya agar saya bisa menerima ini semua dalam tahapan wajar saya sebagai manusia biasa” entah ane ngomong sama siapa waktu itu, tapi yang jelas ane ngomong gitu sendiri – Ente beranggapan ane gila it’s okay, karena memang ini semua ane ga pernah minta dan semua sudah diluar nalar.
Dan tidak lama setelah ane menjadi gila karena sering ngomong sendiri. Ane sempet curhat tentang masalah ini ke Mba Indigo, dan dia membenarkan semua pengakuan “hal-hal diluar nalar” yang terjadi baru-baru ini.
Beliau bertutur kepada ane, “Ya kemarin mba juga di datengin sama mereka. Mereka Cuma mau kenalan aja kok. Sudah intinya memang sudah digariskan. Kamu jalani saja semampu kamu, ikuti kata hati kamu. Pesen mba, jangan pernah ceritakan tentang beberapa sosok yang memang sensitif. Nanti kamu diikutin lagi malah repot.”
Seketika mendengar perkataan Mba Indigo, antara takut & percaya diri bercampur menjadi satu. Karena waktu itu ane Cuma percaya sama perkataan beliau perihal gaib, selaku beliau memang diberikan bakat istimewa untuk melihat & berinteraksi dengan mereka. Dan ane putuskan untuk maju terus, karena dalam hati ane sangat yakin semua ini pasti akan ada hikmah & amanahnya untuk kita semua.
Friday, May 20, 2016
Keluarga Tak Kasat Mata - Bagian 11
Sumber : Kaskus - Diary Misteri - Keluarga Tak Kasat Mata - Bagian 11
Tiga Belah Sejarah
Perkenalkan, nama saya Langgeng. Kalian boleh mengenal saya dalam cerita ini, tetapi jangan pernah sekalipun kalian mencoba menyebut nama saya atau menebak persepsi tentang saya di kehidupan nyata. Karena sudah digariskan dalam persetujuan antara saya dan Ibu Suminah, beberapa manusia sudah dipilih untuk menceritakan kisah ini. Sebuah kisah yang sudah terkubur lama oleh waktu & mungkin sudah saatnya kebenaran harus diungkapkan.
play dulu deh 1 set playlist biar petualangan kita seru
Sekali lagi melalui sebuah keajaiban, ane diperbolehkan kembali melintasi ruang & waktu. Menuju ke banyak experience metafisika yang kemudian membukakan mata ane akan sisa cerita – Ya.. Entah bagaimana semua ini bisa terjadi, waktu itu ane bisa bertemu dengan seseorang pria berbadan tinggi, besar, dan tegap. Dengan rambut panjang hampir sepinggang. Satu sosok yang bisa ane bilang sangar, sesangar-sangarnya manusia deh pokoknya.
Tiga Belah Sejarah
Perkenalkan, nama saya Langgeng. Kalian boleh mengenal saya dalam cerita ini, tetapi jangan pernah sekalipun kalian mencoba menyebut nama saya atau menebak persepsi tentang saya di kehidupan nyata. Karena sudah digariskan dalam persetujuan antara saya dan Ibu Suminah, beberapa manusia sudah dipilih untuk menceritakan kisah ini. Sebuah kisah yang sudah terkubur lama oleh waktu & mungkin sudah saatnya kebenaran harus diungkapkan.
13/13/13
Sekali lagi melalui sebuah keajaiban, ane diperbolehkan kembali melintasi ruang & waktu. Menuju ke banyak experience metafisika yang kemudian membukakan mata ane akan sisa cerita – Ya.. Entah bagaimana semua ini bisa terjadi, waktu itu ane bisa bertemu dengan seseorang pria berbadan tinggi, besar, dan tegap. Dengan rambut panjang hampir sepinggang. Satu sosok yang bisa ane bilang sangar, sesangar-sangarnya manusia deh pokoknya.
Keluarga Tak Kasat Mata - Bagian 10
Sumber : Kaskus - Diary Misteri - Keluarga Tak Kasat Mata - Bagian 10
Ekspansi Visual
Play musicnya untuk masuk ke alam mimpi ane lebih dalam lagi
Lewat mimpi mungkin ane bisa sedikit bervisual.
Akan tetapi, jangan terlalu diilhami terlalu dalam & sapalah "mereka" yang mungkin sedang ikut membaca cerita ini. Karena percaya tidak percaya setiap kita mencoba berinteraksi dengan mereka, mereka dengan tanggap akan memposisikan diri di samping anda sekarang.
Berat untuk membuka mata, antara perasaan takut & cemas tentunya. Ane merasa ada sesosok wajah yang sedang menanti-nanti waktu dimana ane membuka kelopak mata ane. Dan benar saja, ketika ane terbangun.. Ane berada di ruang tamu dengan kondisi gelap gulita. Jika ini memang mimpi tolong bangunkan ane sekarang juga!
Ekspansi Visual
Play musicnya untuk masuk ke alam mimpi ane lebih dalam lagi
Lewat mimpi mungkin ane bisa sedikit bervisual.
Akan tetapi, jangan terlalu diilhami terlalu dalam & sapalah "mereka" yang mungkin sedang ikut membaca cerita ini. Karena percaya tidak percaya setiap kita mencoba berinteraksi dengan mereka, mereka dengan tanggap akan memposisikan diri di samping anda sekarang.
Berat untuk membuka mata, antara perasaan takut & cemas tentunya. Ane merasa ada sesosok wajah yang sedang menanti-nanti waktu dimana ane membuka kelopak mata ane. Dan benar saja, ketika ane terbangun.. Ane berada di ruang tamu dengan kondisi gelap gulita. Jika ini memang mimpi tolong bangunkan ane sekarang juga!
Keluarga Tak Kasat Mata - Bagian 9
Sumber : Kaskus - Diary Misteri - Keluarga Tak Kasat Mata - Bagian 9
Menerka Logika
Semarang, beberapa hari yang lalu ane terduduk diam di bangku kerja tempat ane bekerja sekarang ini. Meja yang penuh dengan corat-coret ide ide konyol seputar dunia ekspor-impor sungguh memaksa ane untuk segera merealisasikannya dalam bentuk yang nyata. Ya begitulah hidup sebagai karyawan kantoran, 1 X 24 jam dalam sehari seakan masih belum cukup rasanya bagi ane. Ketika rekan-rekan yang lain memilih untuk pulang & beristirahat.. Ane sendiri masih ngeyel untuk stay di kantor demi deadline konsep pribadi yang tentunya akan menambah pundi-pundi penghasilan kedepannya ( Amin! Sekalian berharap dapat uang tambahan lembur gitu, bos baca bos hehe).
Menerka Logika
Semarang, beberapa hari yang lalu ane terduduk diam di bangku kerja tempat ane bekerja sekarang ini. Meja yang penuh dengan corat-coret ide ide konyol seputar dunia ekspor-impor sungguh memaksa ane untuk segera merealisasikannya dalam bentuk yang nyata. Ya begitulah hidup sebagai karyawan kantoran, 1 X 24 jam dalam sehari seakan masih belum cukup rasanya bagi ane. Ketika rekan-rekan yang lain memilih untuk pulang & beristirahat.. Ane sendiri masih ngeyel untuk stay di kantor demi deadline konsep pribadi yang tentunya akan menambah pundi-pundi penghasilan kedepannya ( Amin! Sekalian berharap dapat uang tambahan lembur gitu, bos baca bos hehe).
Keluarga Tak Kasat Mata - Bagian 8
Sumber : Kaskus - Diary Misteri - Keluarga Tak Kasat Mata - Bagian 8
Vakansi
Kalo ada yang nanya apa kegundahan ente waktu kerja disana, plus setiap hari ngeliat begituan? Jawabannya adalah rute perjalanan pulang ketika ane harus pulang tengah malem sendirian (kebetulan waktu itu ane ngontrak rumah di daerah Pandega Karya). Ga ada pilihan jalan yang keliatannya enakan dikit buat pulang karena emang semuanya beresiko. Pilihan pertama adalah lewat ringroad (kondisi fly-over sedang dibangun) jadi untuk bisa muter balik cepet ke arah jakal ane harus puter balik lewat kolong jembatan gelap dulu. Antara dibegal, meninggal, terus dibuang kali kalo lewat sana.. atau dikasih liat penampakan wanita yang katanya sudah menjadi urban legend disana, jadi ane ga pernah ambil rute ini kecuali lagi bareng-bareng. Pilihan kedua, lewat selokan mataram.. juga bukan alternatif yang ane ambil karena terlalu jauh kecuali kalo udah saking takutnya. Jadi ane biasanya ambil rute jalan tembus yang sebenernya super ngeri ini, tapi seenggaknya ga ada begal disitu hehe. Rutenya lumayan mencekam, apalagi setelah mendengar cerita-cerita tentang daerah tersebut jadi pasti agak parno kalo lagi naik motor sendirian.
Vakansi
Kalo ada yang nanya apa kegundahan ente waktu kerja disana, plus setiap hari ngeliat begituan? Jawabannya adalah rute perjalanan pulang ketika ane harus pulang tengah malem sendirian (kebetulan waktu itu ane ngontrak rumah di daerah Pandega Karya). Ga ada pilihan jalan yang keliatannya enakan dikit buat pulang karena emang semuanya beresiko. Pilihan pertama adalah lewat ringroad (kondisi fly-over sedang dibangun) jadi untuk bisa muter balik cepet ke arah jakal ane harus puter balik lewat kolong jembatan gelap dulu. Antara dibegal, meninggal, terus dibuang kali kalo lewat sana.. atau dikasih liat penampakan wanita yang katanya sudah menjadi urban legend disana, jadi ane ga pernah ambil rute ini kecuali lagi bareng-bareng. Pilihan kedua, lewat selokan mataram.. juga bukan alternatif yang ane ambil karena terlalu jauh kecuali kalo udah saking takutnya. Jadi ane biasanya ambil rute jalan tembus yang sebenernya super ngeri ini, tapi seenggaknya ga ada begal disitu hehe. Rutenya lumayan mencekam, apalagi setelah mendengar cerita-cerita tentang daerah tersebut jadi pasti agak parno kalo lagi naik motor sendirian.
Keluarga Tak Kasat Mata - Bagian 7
Sumber : Kaskus - Diary Misteri - Keluarga Tak Kasat Mata - Bagian 7
Play dulu & bacalah tulisan dibawah dalam hati
Seribu Kepala Berjalan
“Tubuh ini berjalan tanpa bayang, dalam kegelapan malam bersembunyi. Terkadang ada yang melihat penuh geram, dan terkadang ada yang menertawakan dengan girang. Mungkin lebih baik aku dengan segala ketidaksempurnaan ini, mencoba menyapa kalian semua di alam bawah sadar.”
Sejenak ane & temen-temen berpikir bahwa semuanya sudah pernah kita jumpai selama ini. Tapi hanya satu, barisan sajak diatas semakin menegaskan bahwa mereka tidak akan pernah berhenti untuk hidup berdampingan dengan kita. Hampir sepuluh pemuda menjadi saksi bisu atas kejadian malam itu. Sesaat kami diam & melongok ke arah lantai dua dimana kami semua tanpa sengaja telah berkontak dengan sesosok wanita anggun yang tidak pernah kita ketahui rupanya.
Play dulu & bacalah tulisan dibawah dalam hati
Seribu Kepala Berjalan
“Tubuh ini berjalan tanpa bayang, dalam kegelapan malam bersembunyi. Terkadang ada yang melihat penuh geram, dan terkadang ada yang menertawakan dengan girang. Mungkin lebih baik aku dengan segala ketidaksempurnaan ini, mencoba menyapa kalian semua di alam bawah sadar.”
Sejenak ane & temen-temen berpikir bahwa semuanya sudah pernah kita jumpai selama ini. Tapi hanya satu, barisan sajak diatas semakin menegaskan bahwa mereka tidak akan pernah berhenti untuk hidup berdampingan dengan kita. Hampir sepuluh pemuda menjadi saksi bisu atas kejadian malam itu. Sesaat kami diam & melongok ke arah lantai dua dimana kami semua tanpa sengaja telah berkontak dengan sesosok wanita anggun yang tidak pernah kita ketahui rupanya.
Keluarga Tak Kasat Mata - Bagian 6
Sumber : Kaskus - Diary Mistery - Keluarga Tak Kasat Mata - Bagian 6
Seolah mereka ingin memastikan keberadaan mereka tidak diragukan lagi.
Mungkin bagi sebagian orang yang sudah pernah melihat secara langsung, pastinya tidak akan meragukan lagi bahwa presensi makhluk halus di tempat ini memang benar adanya. Tetapi bagi sebagian orang yang belum pernah melihatnya, tentunya cerita-cerita mistis tadi bagaikan hal konyol yang membuat bising kesehariannya. Sebelumnya sempat ada yang penasaran apa yang terjadi dengan Mas Hafidz setelah membaca facebook chat dari Mas Rudi. Tentunya Mas Hafidz bukan orang nekat yang penuh penasaran, apalagi Mas Rudi yang bilang sendiri. Sambil komat-kamit dia membaca doa sampai Mas Rudi bilang aman gangguan sudah hilang.
Sesudah gangguan itu, Mas Rudi terus memasang semacam pagar gaib di sekitar ruangannya (kurang sakti gimana coba sampe masang kaya begituan, sholehpati aja belum pernah). Soalnya memang di sekitaran ruangannya itu presensi makhluk gaibnya sangat ramai. Sayangnya Mas Rudi juga manusia yang punya batas kekuatan, dia ga bisa magerin tuh seluruh kantor soalnya hawanya udah terlalu kelam cuma makhluk-makhluk di deket ruangan dia aja yang masih bisa diajak "negosiasi". Jadi setelah ini buat kita-kita yang emang harus ngelembur & takut diganggu kita ngungsi ke ruangan ini (tapi pada dasarnya anak-anak mikir percuma kalo nginep kantor tanpa melewati sebuah gangguan, gokil kan guys?)
Reka Rupa Terlupakan
Sebuah kanvas putih besar tergeletak di sebuah ruangan ditemani palet cat air & banyak kuas di sekitarnya. Dulu ane punya temen yang namanya Mas Bori *disamarkan* (doi sekarang udah jadi artist ternama baik di Indo & LN). Mas Bori ini terkenal dengan gambaran hebatnya yang punya karakter sendu-sendu misterius gitu. Kalo ga salah waktu itu doi mau masukin karya di sebuah galeri pameran lokal terkenal gitu. Jadi deh hampir beberapa minggu dia ngelembur ngelukis karyanya, ane sampai mengikuti perkembangannya dari hari ke hari karena emang step by step-nya bagus banget. Sampai akhirnya lukisan tersebut jadi kaya begini nih.
Seolah mereka ingin memastikan keberadaan mereka tidak diragukan lagi.
Mungkin bagi sebagian orang yang sudah pernah melihat secara langsung, pastinya tidak akan meragukan lagi bahwa presensi makhluk halus di tempat ini memang benar adanya. Tetapi bagi sebagian orang yang belum pernah melihatnya, tentunya cerita-cerita mistis tadi bagaikan hal konyol yang membuat bising kesehariannya. Sebelumnya sempat ada yang penasaran apa yang terjadi dengan Mas Hafidz setelah membaca facebook chat dari Mas Rudi. Tentunya Mas Hafidz bukan orang nekat yang penuh penasaran, apalagi Mas Rudi yang bilang sendiri. Sambil komat-kamit dia membaca doa sampai Mas Rudi bilang aman gangguan sudah hilang.
Sesudah gangguan itu, Mas Rudi terus memasang semacam pagar gaib di sekitar ruangannya (kurang sakti gimana coba sampe masang kaya begituan, sholehpati aja belum pernah). Soalnya memang di sekitaran ruangannya itu presensi makhluk gaibnya sangat ramai. Sayangnya Mas Rudi juga manusia yang punya batas kekuatan, dia ga bisa magerin tuh seluruh kantor soalnya hawanya udah terlalu kelam cuma makhluk-makhluk di deket ruangan dia aja yang masih bisa diajak "negosiasi". Jadi setelah ini buat kita-kita yang emang harus ngelembur & takut diganggu kita ngungsi ke ruangan ini (tapi pada dasarnya anak-anak mikir percuma kalo nginep kantor tanpa melewati sebuah gangguan, gokil kan guys?)
Reka Rupa Terlupakan
Sebuah kanvas putih besar tergeletak di sebuah ruangan ditemani palet cat air & banyak kuas di sekitarnya. Dulu ane punya temen yang namanya Mas Bori *disamarkan* (doi sekarang udah jadi artist ternama baik di Indo & LN). Mas Bori ini terkenal dengan gambaran hebatnya yang punya karakter sendu-sendu misterius gitu. Kalo ga salah waktu itu doi mau masukin karya di sebuah galeri pameran lokal terkenal gitu. Jadi deh hampir beberapa minggu dia ngelembur ngelukis karyanya, ane sampai mengikuti perkembangannya dari hari ke hari karena emang step by step-nya bagus banget. Sampai akhirnya lukisan tersebut jadi kaya begini nih.
Keluarga Tak Kasat Mata - Bagian 5
Sumber : Kaskus - Diary Misteri - Keluarga Tak Kasat Mata - Bagian 5
Huft.. Huft.. Huft.. dengan nafas yang terengah-terengah kita semua masih mencoba mengatur nafas setelah sempat lari-lari dengan paniknya. 3 rombongan tadi sekarang sudah berkumpul menjadi satu di teras kantor, sedikit lega rasanya ketakutan sedikit mulai berkurang karena kita udah rame-rame sekarang (padahal dalam keramaian pun bukan jaminan mereka ga bakalan ganggu lagi). Disini mulai keliatan nih muka-muka munafik yang pura-pura ga takut sekarang padahal tadi mukanya panik semua sambil teriak hua.. hua.. hua.. Bahkan ada yang menganggap penampakan si hitam tadi sangar banget, karena mereka baru sekali ini liat penampakan makhluk gaib kaya di film-film. Buat yang kena jatah ngeliat si mba ketawa & nenek mukena tadi ya jelas mukanya pada shock semuanya & takut buat masuk ke kantor lagi kalo-kalo mereka masih pada nungguin kita disana.
Dan akhirnya beberapa dari kita ada yang memutuskan untuk pulang & sebagian menghabiskan sisa malam di kantor dengan tidur bareng di ruang tamu dengan penerangan maksimal & TV nyala. Ane kebetulan juga milih stay di kantor, bukan karena ane sok berani ato gimana tapi jalan pulang ke kontrakan ane di daerah Jakal emang ngeri kalo malem & waktu itu Jogja lagi ngetrend begal. Jadi ane putuskan untuk tidur dengan para penakut yang sok tegar lainnya, seenggaknya kalo diganggu lagi setelah ini kita masih bisa teriak bareng & berbagi ketakutan karena kita sedulur hehe. Udah ane bilang di awal cerita, kalo gangguan di tempat ini udah level kronis! Kalo Cuma suara-suara sama angin mah udah ga level.. gangguan kecil kaya gitu udah kita alamin hampir setiap hari di tengah-tengah aktivitas kita baik pagi, siang ataupun malam.
Sekali lagi ane admit, belum pernah ane ngalamin horor yang mengakibatkan sampe ane terbiasa dengan kehadiran mereka.
Bersemayam Dalam Hening
Mungkin bagi sebagian orang akan memilih pergi setelah mengetahui betapa angkernya bangunan ini, tapi tidak bagi kami.. Kami semua lebih memilih untuk tinggal karena kami percaya hanya dengan gangguan seperti itu tidak akan menghalangi kreatifitas kami untuk berkembang lebih lagi. Seolah gangguan-gangguan kecil yang terjadi, sudah menjadi pelengkap di hari-hari kami ketika sedang asik bekerja. Banyak orang bilang bakalan lari, semisal ada sesuatu yang janggal terjadi di dekatnya. Tetapi ga berlaku bagi temen-temen ane.. Mas Andiko, Pondro, Yoga, dkk (kebetulan mereka bekerja di satu ruangan waktu itu).
Huft.. Huft.. Huft.. dengan nafas yang terengah-terengah kita semua masih mencoba mengatur nafas setelah sempat lari-lari dengan paniknya. 3 rombongan tadi sekarang sudah berkumpul menjadi satu di teras kantor, sedikit lega rasanya ketakutan sedikit mulai berkurang karena kita udah rame-rame sekarang (padahal dalam keramaian pun bukan jaminan mereka ga bakalan ganggu lagi). Disini mulai keliatan nih muka-muka munafik yang pura-pura ga takut sekarang padahal tadi mukanya panik semua sambil teriak hua.. hua.. hua.. Bahkan ada yang menganggap penampakan si hitam tadi sangar banget, karena mereka baru sekali ini liat penampakan makhluk gaib kaya di film-film. Buat yang kena jatah ngeliat si mba ketawa & nenek mukena tadi ya jelas mukanya pada shock semuanya & takut buat masuk ke kantor lagi kalo-kalo mereka masih pada nungguin kita disana.
Dan akhirnya beberapa dari kita ada yang memutuskan untuk pulang & sebagian menghabiskan sisa malam di kantor dengan tidur bareng di ruang tamu dengan penerangan maksimal & TV nyala. Ane kebetulan juga milih stay di kantor, bukan karena ane sok berani ato gimana tapi jalan pulang ke kontrakan ane di daerah Jakal emang ngeri kalo malem & waktu itu Jogja lagi ngetrend begal. Jadi ane putuskan untuk tidur dengan para penakut yang sok tegar lainnya, seenggaknya kalo diganggu lagi setelah ini kita masih bisa teriak bareng & berbagi ketakutan karena kita sedulur hehe. Udah ane bilang di awal cerita, kalo gangguan di tempat ini udah level kronis! Kalo Cuma suara-suara sama angin mah udah ga level.. gangguan kecil kaya gitu udah kita alamin hampir setiap hari di tengah-tengah aktivitas kita baik pagi, siang ataupun malam.
Sekali lagi ane admit, belum pernah ane ngalamin horor yang mengakibatkan sampe ane terbiasa dengan kehadiran mereka.
Bersemayam Dalam Hening
Mungkin bagi sebagian orang akan memilih pergi setelah mengetahui betapa angkernya bangunan ini, tapi tidak bagi kami.. Kami semua lebih memilih untuk tinggal karena kami percaya hanya dengan gangguan seperti itu tidak akan menghalangi kreatifitas kami untuk berkembang lebih lagi. Seolah gangguan-gangguan kecil yang terjadi, sudah menjadi pelengkap di hari-hari kami ketika sedang asik bekerja. Banyak orang bilang bakalan lari, semisal ada sesuatu yang janggal terjadi di dekatnya. Tetapi ga berlaku bagi temen-temen ane.. Mas Andiko, Pondro, Yoga, dkk (kebetulan mereka bekerja di satu ruangan waktu itu).
Keluarga Tak Kasat Mata - Bagian 4
Sumber : Kaskus - Diary Misteri - Keluarga Tak Kasat Mata - Bagian 4
Reuni Kelam
Play lagunya dulu biar kebawa suasana
Hari demi hari berlalu, canda tawa kebersamaan bercampur dengan segala aktivitas kesibukan di tempat ini. Sesaat kami sedikit melupakan kejadian-kejadian janggal yang pernah terjadi tempo hari. Yaaa.. Siapa juga yang menyangka tempat yang dihuni puluhan orang, beraktivitas hampir 24 jam, ternyata menyimpan sebuah rahasia misteri dibaliknya.
Mas Rudi, sesosok pria kurus yang taat beribadah tempo hari pernah berpetuah kepada sedikit dari kami untuk menjaga perilaku selama di tempat ini. Karena konon, kekuatan negatif di tempat dimana ane lebih banyak menghabiskan waktu sehari-hari ini sangatlah mengganggu. Bahkan ia juga sempat bilang bahwa penghuni di tempat ini tidak segan berkontak fisik dengan kami. Beberapa dari kami mungkin berpikir, petuah itu konyol mana mungkin makhluk halus bisa berkontak fisik dengan manusia? (Mungkin kalo setannya zombie ane ga takut, tapi tau sendiri setan Indonesia bentuknya kaya gimana). Tapi dasar yang namanya anak muda ya, masih terlalu semangat kerja apalagi di sekelilingnya bekerja dengan temen-temen yang ga kalah serunya.. suara, umpatan, bahkan candaan yang kita singgungkan kepada penunggu disini hampir setiap hari terlontar dari masing-masing individu. Cuma di tempat ini, waktu itu makhluk halus jadi bahan guyonan (sampai pada akhirnya nanti teror datang tak berkesudahan). Karena memang waktu itu mereka sudah absen untuk menampakkan diri, mungkin mereka lelah pikir kami. Tapi sebenarnya mereka seperti sedang menghimpun kekuatan sendiri.
Reuni Kelam
Play lagunya dulu biar kebawa suasana
Hari demi hari berlalu, canda tawa kebersamaan bercampur dengan segala aktivitas kesibukan di tempat ini. Sesaat kami sedikit melupakan kejadian-kejadian janggal yang pernah terjadi tempo hari. Yaaa.. Siapa juga yang menyangka tempat yang dihuni puluhan orang, beraktivitas hampir 24 jam, ternyata menyimpan sebuah rahasia misteri dibaliknya.
Mas Rudi, sesosok pria kurus yang taat beribadah tempo hari pernah berpetuah kepada sedikit dari kami untuk menjaga perilaku selama di tempat ini. Karena konon, kekuatan negatif di tempat dimana ane lebih banyak menghabiskan waktu sehari-hari ini sangatlah mengganggu. Bahkan ia juga sempat bilang bahwa penghuni di tempat ini tidak segan berkontak fisik dengan kami. Beberapa dari kami mungkin berpikir, petuah itu konyol mana mungkin makhluk halus bisa berkontak fisik dengan manusia? (Mungkin kalo setannya zombie ane ga takut, tapi tau sendiri setan Indonesia bentuknya kaya gimana). Tapi dasar yang namanya anak muda ya, masih terlalu semangat kerja apalagi di sekelilingnya bekerja dengan temen-temen yang ga kalah serunya.. suara, umpatan, bahkan candaan yang kita singgungkan kepada penunggu disini hampir setiap hari terlontar dari masing-masing individu. Cuma di tempat ini, waktu itu makhluk halus jadi bahan guyonan (sampai pada akhirnya nanti teror datang tak berkesudahan). Karena memang waktu itu mereka sudah absen untuk menampakkan diri, mungkin mereka lelah pikir kami. Tapi sebenarnya mereka seperti sedang menghimpun kekuatan sendiri.
Keluarga Tak Kasat Mata - Bagian 3
Sumber : Kaskus - Diary Misteri - Keluarga Tak Kasat Mata - Bagian 3
Memutar Waktu Tak Ada Beda
Kula pinarak rumiyin nggih..
Sebuah kata yang terus terngiang di benak kami. Pikiran kami sudah bercampur aduk antara wajah & suara dari sosok tadi. Beberapa dari kami sengaja memalingkan wajah dari pemandangan tersebut. Ada juga yang sengaja menutup wajahnya, sambil terus mengatakan “Astaghfirullah.. Astagfirullah.. Astagfirullah..” berulang-ulang. Niat sudah kacau antara ada keinginan untuk lari atau tetap pasrah di ruangan ini. Jelas untuk lari dari ruangan tadi kita harus menerobos pintu tempat dimana sosok itu menampakkan dirinya. Perlahan-lahan kami membuka sedikit pandangan kami ke jendela tadi sembari berharap wujud tadi segera lenyap dari pandangan. Ketika kami membuka pandangan perlahan, dan yang terjadi ...
Memutar Waktu Tak Ada Beda
Kula pinarak rumiyin nggih..
Sebuah kata yang terus terngiang di benak kami. Pikiran kami sudah bercampur aduk antara wajah & suara dari sosok tadi. Beberapa dari kami sengaja memalingkan wajah dari pemandangan tersebut. Ada juga yang sengaja menutup wajahnya, sambil terus mengatakan “Astaghfirullah.. Astagfirullah.. Astagfirullah..” berulang-ulang. Niat sudah kacau antara ada keinginan untuk lari atau tetap pasrah di ruangan ini. Jelas untuk lari dari ruangan tadi kita harus menerobos pintu tempat dimana sosok itu menampakkan dirinya. Perlahan-lahan kami membuka sedikit pandangan kami ke jendela tadi sembari berharap wujud tadi segera lenyap dari pandangan. Ketika kami membuka pandangan perlahan, dan yang terjadi ...
Keluarga Tak Kasat Mata - Bagian 2
Sumber : Kaskus - Diary Misteri - Keluarga Tak Kasat Mata Bag 2
Mematung Sepi
Malam belum terlalu malam, kami dengan sejuta persepsi horor yang barusan terlintas di hadapan kami masing-masing masih mencoba menerka-nerka ada apa sebenarnya di balik semua ini. Jelas-jelas suara tawa tadi sudah pasti menghantui pikiran malam ini. Tidak mungkin rasanya untuk berpikiran pulang ke rumah masing-masing mengingat kondisi baru saja pindahan, mati lampu, pasti sangatlah rawan untuk ditinggalkan. Jadilah kami berpura-pura melupakan kejadian tadi (padahal ane yakin dari sekian orang disini lagi nyari alesan biar bisa ijin pulang haha), mau nyelidikin bareng pun juga udah ga kepikiran sama sekali. Mau ke kamar mandi aja takutnya setengah mati, ini malah pengen nyelidikin bangunan gede yang sebagian besar masih kosong tanpa penerangan sama sekali. Kami Cuma bisa bertanya satu sama lain, sebenernya dulu bangunan ini bekas apa? Mas Sukma selaku atasan pun juga tidak tahu menahu tentang bangunan ini, karena dia hanya bertemu kontraktornya waktu itu. Katanya sih ga ada masalah apa-apa Cuma dulunya sempet kosong selama 2 tahun sebelum akhirnya bangunan ini kami kontrak untuk 2 tahun kedepan.
Mematung Sepi
Malam belum terlalu malam, kami dengan sejuta persepsi horor yang barusan terlintas di hadapan kami masing-masing masih mencoba menerka-nerka ada apa sebenarnya di balik semua ini. Jelas-jelas suara tawa tadi sudah pasti menghantui pikiran malam ini. Tidak mungkin rasanya untuk berpikiran pulang ke rumah masing-masing mengingat kondisi baru saja pindahan, mati lampu, pasti sangatlah rawan untuk ditinggalkan. Jadilah kami berpura-pura melupakan kejadian tadi (padahal ane yakin dari sekian orang disini lagi nyari alesan biar bisa ijin pulang haha), mau nyelidikin bareng pun juga udah ga kepikiran sama sekali. Mau ke kamar mandi aja takutnya setengah mati, ini malah pengen nyelidikin bangunan gede yang sebagian besar masih kosong tanpa penerangan sama sekali. Kami Cuma bisa bertanya satu sama lain, sebenernya dulu bangunan ini bekas apa? Mas Sukma selaku atasan pun juga tidak tahu menahu tentang bangunan ini, karena dia hanya bertemu kontraktornya waktu itu. Katanya sih ga ada masalah apa-apa Cuma dulunya sempet kosong selama 2 tahun sebelum akhirnya bangunan ini kami kontrak untuk 2 tahun kedepan.
Keluarga Tak Kasat Mata - Bagian 1
Sumber : Kaskus - Diary Misteri - Keluarga Tak Kasat Mata Part 1
Intro
Sebelumnya perkenalkan nama ane Genta. Cerita ini terjadi sekitar 2 tahun yang lalu dimana ane masih aktif menjadi mahasiswa di Jogja. Dulu ane nyambi kerja part-time an di sebuah perusahaan selama hampir 3 tahun. Sekarang ane udah lulus & kerja di Semarang, tapi ane masih sering maen ke tempat kerja ane yang dulu sekedar buat ketemu temen lama. Bukan tentang cerita seram yang ane alamin di tempat ane tinggal, kampus, atau tempat umum di Jogja. Tapi semua pengalaman horor yang ane alamin terjadi di tempat ane kerja dulu. Semua hal-hal yang bersifat kasat mata & secara terus menerus dateng di kehidupan ane. (SKIP) ... Oh iya, tempat dimana ane kerja dulu sebelumnya ada 3 kantor bagian sebelum akhirnya semua digabungin jadi 1 tempat & kita semua (hampir 40an orang karyawan) menghuni tempat ini.
Diapun Ikut Tertawa
Panas terik udara siang hari menyelimuti kota Jogja, tampak sekumpulan pemuda sedang berkumpul di sekitaran Jl. Palagan. Rentetan jalan yang punya sejuta cerita tersendiri untuk para pemuda tadi yang telah saling mengenal satu sama lain sebagai sebuah keluarga kecil hampir kurang lebih 2 tahun. Ya.. berat rasanya untuk kami pindah dari tempat dimana kami berjuang bersama dalam suka duka & pindah ke tempat baru dimana kami akan memulai pekerjaan dengan suasana yang baru.
Siang itu ane bersama beberapa temen ane sedang sibuk angkut-angkut barang dari kantor lama menuju kantor baru kami yang terletak di Jl. Magelang. Segala proses pindahan kami lakukan secara langsungan dengan beberapa mobil, sehingga kami tidak perlu bolak-balik Jl. Palagan – Jl. Magelang yang lumayan menguras keringat mengingat panasnya udara Jogja saat itu.
Sebelumnya perkenalkan nama ane Genta. Cerita ini terjadi sekitar 2 tahun yang lalu dimana ane masih aktif menjadi mahasiswa di Jogja. Dulu ane nyambi kerja part-time an di sebuah perusahaan selama hampir 3 tahun. Sekarang ane udah lulus & kerja di Semarang, tapi ane masih sering maen ke tempat kerja ane yang dulu sekedar buat ketemu temen lama. Bukan tentang cerita seram yang ane alamin di tempat ane tinggal, kampus, atau tempat umum di Jogja. Tapi semua pengalaman horor yang ane alamin terjadi di tempat ane kerja dulu. Semua hal-hal yang bersifat kasat mata & secara terus menerus dateng di kehidupan ane. (SKIP) ... Oh iya, tempat dimana ane kerja dulu sebelumnya ada 3 kantor bagian sebelum akhirnya semua digabungin jadi 1 tempat & kita semua (hampir 40an orang karyawan) menghuni tempat ini.
Diapun Ikut Tertawa
Panas terik udara siang hari menyelimuti kota Jogja, tampak sekumpulan pemuda sedang berkumpul di sekitaran Jl. Palagan. Rentetan jalan yang punya sejuta cerita tersendiri untuk para pemuda tadi yang telah saling mengenal satu sama lain sebagai sebuah keluarga kecil hampir kurang lebih 2 tahun. Ya.. berat rasanya untuk kami pindah dari tempat dimana kami berjuang bersama dalam suka duka & pindah ke tempat baru dimana kami akan memulai pekerjaan dengan suasana yang baru.
Siang itu ane bersama beberapa temen ane sedang sibuk angkut-angkut barang dari kantor lama menuju kantor baru kami yang terletak di Jl. Magelang. Segala proses pindahan kami lakukan secara langsungan dengan beberapa mobil, sehingga kami tidak perlu bolak-balik Jl. Palagan – Jl. Magelang yang lumayan menguras keringat mengingat panasnya udara Jogja saat itu.
Subscribe to:
Comments (Atom)












